Prodi Produksi Media
Inovasi Konten Kreatif, Broadcasting & Sinematografi Digital
Akses Admin
Masukkan PIN (Default: 1234)
Inovasi Konten Kreatif, Broadcasting & Sinematografi Digital
Masukkan PIN (Default: 1234)
Apa Itu
Gemini Plus? Begini Cara Mendapatkannya Gratis untuk Mahasiswa
Kalau
kamu pernah mendengar istilah Gemini Plus, yang dimaksud saat ini adalah paket Google
AI Plus, yaitu paket berlangganan Google yang memberikan akses ke berbagai
fitur AI dengan batas penggunaan dan fasilitas yang lebih tinggi.
Kabar
baiknya, mahasiswa yang memenuhi persyaratan bisa mendapatkan Google AI Plus
secara gratis selama 1 tahun melalui program penawaran khusus dari Google.
Dengan
akses ini, Gemini bukan hanya bisa digunakan untuk mencari jawaban, tetapi juga
dapat dimanfaatkan sebagai asisten belajar pribadi untuk membantu berbagai
kebutuhan perkuliahan.
Apa Saja
yang Didapatkan?
Melalui
Google AI Plus, mahasiswa dapat memanfaatkan berbagai fitur untuk mendukung
aktivitas belajar, di antaranya:
Jadi, daripada hanya menggunakan Gemini untuk bertanya dan mencari jawaban, kamu bisa memanfaatkannya untuk belajar, melakukan riset, merangkum materi, mencari ide, hingga membuat berbagai konten pendukung tugas kuliah.
Siapa yang
Bisa Mendapatkan Gemini Plus Gratis?
Program
Google AI Plus untuk mahasiswa ditujukan bagi mahasiswa yang memenuhi
persyaratan dan berada di wilayah yang mendapatkan penawaran tersebut.
Secara umum,
beberapa persyaratan yang perlu dipenuhi antara lain:
✅
Berusia minimal 18 tahun
✅ Masih
terdaftar sebagai mahasiswa
✅
Berada di negara yang mendapatkan penawaran
✅
Memiliki akun Google
✅
Berhasil melakukan verifikasi status mahasiswa
Untuk
mahasiswa di Indonesia, Google menyediakan penawaran tersebut bagi mahasiswa
yang memenuhi persyaratan.
Namun, perlu diingat bahwa kelayakan akhir tetap ditentukan oleh Google berdasarkan proses pendaftaran dan verifikasi.
Cara
Mendapatkan Gemini Plus Gratis untuk Mahasiswa
Kalau kamu
memenuhi persyaratan, proses pendaftarannya cukup sederhana. Berikut
langkah-langkah yang bisa kamu ikuti.
Langkah 1
— Buka Halaman Resmi Google
Pertama, buka
halaman resmi program mahasiswa Google:
Gemini untuk Mahasiswa – Google
Pastikan kamu menggunakan situs resmi Google dan berhati-hati terhadap link pendaftaran yang berasal dari situs atau sumber yang tidak dikenal.
Langkah 2
— Login dengan Akun Google
Setelah
halaman terbuka, login menggunakan akun Google yang ingin kamu gunakan untuk
mengakses Google AI Plus.
Sebaiknya
gunakan akun Google yang memang biasa digunakan untuk aktivitas kuliah
sehari-hari.
Tips: Ingat akun Google yang kamu gunakan saat mendaftar. Akun inilah yang nantinya akan mendapatkan akses Google AI Plus.
Langkah 3
— Pilih Penawaran untuk Mahasiswa
Jika
akunmu memenuhi persyaratan, Google akan menampilkan penawaran khusus mahasiswa.
Ikuti instruksi yang muncul pada layar hingga kamu masuk ke tahap verifikasi
status mahasiswa.
Selain
melalui halaman Gemini, kamu juga dapat mengakses halaman Google One untuk
mahasiswa:
Langkah 4
— Siapkan KTM untuk Verifikasi
Ini
merupakan salah satu bagian terpenting dalam proses pendaftaran.
Google
dapat menggunakan SheerID untuk membantu memverifikasi bahwa kamu benar-benar
berstatus sebagai mahasiswa.SheerID
Karena
itu, sebelum memulai proses verifikasi, sebaiknya siapkan Kartu Tanda Mahasiswa
(KTM).
Dokumen
yang Sebaiknya Disiapkan
🎓 Kartu Tanda Mahasiswa (KTM)
🏫
Nama perguruan tinggi
👤
Nama lengkap mahasiswa
📅
Masa berlaku KTM, jika tercantum
📄
Dokumen akademik tambahan jika diperlukan
Dalam
beberapa kasus, status mahasiswa dapat diverifikasi secara otomatis. Namun,
jika sistem belum dapat memastikan statusmu, kamu mungkin diminta mengunggah
dokumen tambahan.
Tips Agar
Verifikasi Mahasiswa Berjalan Lancar
Agar proses
verifikasi tidak mengalami kendala, perhatikan beberapa hal berikut:
Jangan mengunggah dokumen yang tidak diminta. Ikuti saja instruksi verifikasi yang muncul pada halaman resmi.
Langkah 5
— Tambahkan Metode Pembayaran
Setelah
proses verifikasi mahasiswa berhasil, kamu mungkin diminta untuk menambahkan
metode pembayaran sebagai bagian dari proses aktivasi.
Metode
pembayaran yang tersedia dapat bergantung pada akun dan wilayah, misalnya
melalui GoPay, DANA, kartu kredit, atau metode pembayaran lain yang didukung
Google.
Meski
mendapatkan akses gratis selama periode penawaran, metode pembayaran tetap
dapat diminta saat proses pendaftaran.
Jangan
Lupa Perhatikan Masa Gratis
Hal yang
tidak boleh dilewatkan adalah periode gratis memiliki batas waktu.
Setelah masa
penawaran gratis berakhir, langganan dapat berlanjut ke periode berbayar sesuai
ketentuan yang berlaku jika tidak dibatalkan.
Karena itu, jika kamu tidak ingin melanjutkan langganan berbayar, pastikan membatalkannya sebelum periode gratis berakhir.
Langkah 6
— Selesaikan Aktivasi
Setelah
verifikasi mahasiswa berhasil dan seluruh proses pendaftaran selesai, Google AI
Plus akan aktif pada akun yang kamu gunakan.
Selanjutnya,
kamu bisa membuka Gemini melalui:
Pastikan kamu login menggunakan akun Google yang sama dengan akun yang digunakan ketika mendaftar program mahasiswa.
Kesimpulan
Mendapatkan Gemini
Plus atau Google AI Plus gratis untuk mahasiswa bisa menjadi kesempatan
menarik untuk memaksimalkan penggunaan AI dalam kegiatan perkuliahan.
Menyusun Rencana Pembelajaran Semester (RPS) sering kali menjadi pekerjaan yang cukup menyita waktu bagi dosen. Bukan hanya karena harus menuliskan rencana pembelajaran untuk satu semester penuh, tetapi juga karena setiap komponen RPS harus saling berkaitan, mulai dari CPL, CPMK, Sub-CPMK, materi pembelajaran, metode pembelajaran, hingga bentuk asesmen.
Di tengah perkembangan teknologi kecerdasan buatan atau Artificial
Intelligence (AI), proses tersebut kini dapat dilakukan dengan lebih cepat
menggunakan bantuan RPS Generator.
Salah satu tools yang sudah saya buat dan dapat dicoba adalah RPS Generator yang
dapat diakses melalui:
Apa Itu RPS Generator?
RPS Generator merupakan tools berbasis AI yang dapat
membantu dosen menyusun rancangan pembelajaran secara lebih terstruktur. Konsepnya
sederhana. Dosen memasukkan informasi dan kebutuhan pembelajaran, kemudian AI
membantu mengembangkan informasi tersebut menjadi rancangan RPS.
Penggunaan AI untuk membantu penyusunan RPS bukanlah hal
yang sepenuhnya baru. Berbagai pengembangan Smart RPS Generator juga
mulai diarahkan untuk membantu otomatisasi penyusunan sekaligus mengecek
keterkaitan antara CPL, CPMK, Sub-CPMK, materi, strategi pembelajaran, dan
asesmen. Artinya, AI dapat digunakan bukan hanya untuk "mengisi
tabel", tetapi juga sebagai asisten dalam merancang pembelajaran.
Mengapa Dosen Perlu Mencoba RPS Generator?
Bayangkan seorang dosen mendapatkan tugas menyusun atau
memperbarui RPS untuk beberapa mata kuliah.
Jika semuanya dilakukan secara manual, dosen harus:
Pekerjaan tersebut tentu membutuhkan waktu.
Dengan bantuan AI, proses awal dapat dipercepat. dosen
dapat menggunakan hasil generasi AI sebagai draft awal, kemudian
melakukan pemeriksaan dan penyempurnaan berdasarkan karakteristik mata kuliah,
mahasiswa, serta standar kurikulum perguruan tinggi.
Cara Membuat RPS dengan RPS Generator
Berikut alur sederhana yang dapat digunakan.
1. Buka
RPS Generator
Pertama, buka:
usahakan sudah login di Gmail, jika muncul notifikasi,
klik “Continue”
2. Siapkan
Data Mata Kuliah
Sebelum menggunakan generator, sebaiknya dosen tidak
langsung meminta AI membuat RPS tanpa memberikan informasi.
Siapkan terlebih dahulu beberapa data penting, seperti:
Identitas mata kuliah
Data kurikulum
Semakin lengkap konteks yang diberikan, semakin mudah AI menghasilkan rancangan yang sesuai kebutuhan.
3. Klik “Auto Generate RPS”
4. Cek Kembali hasilnya, jika tidak sesuai atau ingin disempurnakan lakukan perbaikan.
5. Jika sudah, pindahkan sesuai template resmi yang dari prodi.
Kembangkan CPMK dan Sub-CPMK
Salah satu bagian penting dalam RPS adalah keterkaitan
antara:
CPL → CPMK → Sub-CPMK
AI dapat membantu memberikan alternatif rumusan capaian
pembelajaran berdasarkan informasi yang diberikan.namun, hasil tersebut tetap
perlu diperiksa.
Misalnya, CPMK:
Mahasiswa mampu merancang konsep konten digital
berdasarkan karakteristik audiens, tujuan komunikasi, dan platform media.
Kemudian dapat diturunkan menjadi beberapa Sub-CPMK,
seperti:
Jangan Langsung Percaya Hasil AI
RPS Generator adalah alat bantu, bukan
pengambil keputusan akademik.
AI dapat menghasilkan kalimat yang terlihat akademis,
tetapi belum tentu sesuai dengan kurikulum program studi.
Bahkan dalam pengembangan berbagai sistem RPS berbasis
AI, salah satu tantangan utama adalah memastikan adanya konsistensi dan constructive
alignment antara CPL, CPMK, Sub-CPMK, materi, strategi pembelajaran, dan
asesmen.
Karena itu, setelah RPS dibuat, dosen perlu melakukan
minimal lima pemeriksaan.
1. Periksa CPL
Apakah CPL yang digunakan benar-benar CPL resmi program
studi?
2. Periksa CPMK
Apakah CPMK benar-benar mendukung CPL?
3. Periksa Sub-CPMK
Apakah Sub-CPMK merupakan turunan yang logis dari CPMK?
4. Periksa Materi dan Aktivitas
Apakah materi dan aktivitas pembelajaran benar-benar
membantu mahasiswa mencapai Sub-CPMK?
5. Periksa Asesmen
Apakah bentuk penilaian benar-benar mampu mengukur
capaian yang ditargetkan?
Inilah yang membuat proses penyusunan RPS dengan AI
berbeda dengan sekadar meminta AI membuat dokumen.
Gunakan AI sebagai "Asisten" Dosen
Cara terbaik menggunakan RPS Generator adalah menempatkan
AI sebagai asisten.
Dosen tetap menjadi pengambil keputusan utama.
AI membantu:
Dengan pola seperti ini, AI tidak menggantikan peran
dosen. Justru AI membantu mengurangi pekerjaan administratif sehingga dosen
dapat lebih fokus pada aspek pedagogis dan pengembangan pembelajaran.
Gunakan kata kerja operasional
Rumusan capaian pembelajaran sebaiknya menggunakan kata
kerja yang dapat diamati dan diukur, misalnya: (sesuai Taksonomi Bloom)
Hindari rumusan yang terlalu umum seperti
"memahami" jika capaian tersebut dapat dibuat lebih terukur.
Jangan lupa menyesuaikan dengan kondisi kelas
RPS yang dihasilkan AI belum tentu cocok dengan kondisi
nyata.
Jumlah mahasiswa, fasilitas laboratorium, durasi
perkuliahan, kemampuan awal mahasiswa, dan karakteristik program studi tetap
harus dipertimbangkan.
Kesimpulan
Menyusun RPS tidak harus selalu dimulai dari halaman
kosong.
Dengan bantuan RPS Generator, dosen dapat
mempercepat proses penyusunan draft, mengembangkan ide pembelajaran, serta
membantu memetakan hubungan antara capaian, materi, aktivitas, dan asesmen.
Namun, teknologi tetap harus ditempatkan sebagai alat
bantu.
Kualitas RPS tetap bergantung pada pemahaman dosen
terhadap kurikulum, karakteristik mata kuliah, kebutuhan mahasiswa, serta
kemampuan melakukan validasi terhadap hasil yang dihasilkan AI.
Jadi, bukan lagi:
"AI membuat RPS."
Tetapi:
"Dosen merancang pembelajaran, AI membantu mempercepat prosesnya."
Gunakan AI untuk mengurangi pekerjaan administratif,
tetapi tetap pertahankan sentuhan akademik dan keputusan pedagogis dosen.
Membuat film pendek dengan bantuan AI kini dapat dilakukan dengan cara yang lebih sederhana. Prosesnya dimulai dari sebuah ide cerita, kemudian dikembangkan menjadi karakter, adegan, visual, hingga video. Dalam proses ini, AI bukan menggantikan kreativitas manusia, tetapi menjadi alat yang membantu mewujudkan gagasan menjadi sebuah karya audiovisual.
Sebagai contoh, kita dapat
membuat film pendek tentang perjuangan seorang ayah yang bekerja sebagai
pengemudi ojek online demi membiayai kuliah anaknya. Cerita bermula ketika sang
anak merasa malu saat ayahnya datang ke kampus mengantarkan makanan. Perasaan
malu tersebut kemudian berubah menjadi penyesalan setelah sang anak menyadari
betapa besar perjuangan ayahnya selama ini.
Untuk mengembangkan cerita,
kita dapat menggunakan ChatGPT. Ide sederhana diberikan kepada ChatGPT untuk
dikembangkan menjadi alur cerita yang memiliki karakter, konflik, klimaks, dan
ending yang menyentuh. ChatGPT juga dapat membantu membuat dialog serta
menentukan pesan yang ingin disampaikan kepada penonton.
Contoh:
Setelah cerita terbentuk,
tahap berikutnya adalah membuat karakter. Setiap karakter perlu memiliki
deskripsi yang jelas, seperti usia, wajah, rambut, pakaian, kepribadian, dan
ekspresi. Deskripsi tersebut kemudian diubah oleh ChatGPT menjadi character
prompt.
contoh:
Character prompt selanjutnya
digunakan di Flow untuk menghasilkan visual karakter. Dari beberapa hasil yang
muncul, dipilih visual yang paling sesuai untuk dijadikan referensi. Referensi
ini penting agar penampilan karakter, terutama wajah dan pakaian, tetap
konsisten ketika muncul dalam berbagai adegan.
Cerita kemudian dibagi
menjadi beberapa scene. Misalnya, scene pertama memperlihatkan ayah bekerja
sebagai pengemudi ojek online, dilanjutkan dengan adegan ketika ia mengantarkan
makanan ke kampus, pertemuannya dengan sang anak, konflik yang terjadi, hingga
akhirnya anak menyadari pengorbanan ayahnya.
Setiap scene kemudian
dibuatkan prompt menggunakan ChatGPT. Prompt tersebut menjelaskan siapa yang
tampil, apa yang dilakukan, lokasi kejadian, suasana, ekspresi, serta
pengambilan gambar. Dengan prompt yang lebih detail, Flow dapat membantu
menghasilkan visual yang lebih sesuai dengan kebutuhan cerita.
Selanjutnya, setiap prompt
scene dimasukkan ke Flow untuk menghasilkan video. Character reference
digunakan kembali agar karakter tetap konsisten. Jika hasil yang diperoleh
belum sesuai, prompt dapat diperbaiki dan video dibuat kembali. Proses mencoba,
mengevaluasi, dan memperbaiki inilah yang disebut sebagai iterasi.
Setelah seluruh scene
selesai dibuat, semua video digabungkan melalui proses editing. Dialog, voice
over, musik, sound effect, subtitle, dan transisi dapat ditambahkan untuk
memperkuat cerita dan emosi.
Dengan demikian, workflow
pembuatan film pendek menggunakan AI dapat dilakukan secara sederhana: ide
cerita dikembangkan dengan ChatGPT, karakter dibuat dan divisualisasikan
melalui Flow, cerita dipecah menjadi scene, setiap scene dibuatkan prompt,
kemudian di-generate menjadi video dan disusun melalui editing.
hasil filmya:
Teknologi AI memang dapat
membantu mempercepat proses produksi, tetapi cerita, emosi, dan kreativitas
tetap berada di tangan pembuat film. AI adalah alat untuk membantu mewujudkan
ide, sementara manusia tetap menjadi pengarah utama di balik sebuah karya.
Lomba Ide Cerita Film Vertical "Berbeda, Bersama, Ruang untuk Semua"